Hidup berdampingan dengan keluarga kecil yang bahagia, berada di lingkungan yang menyenangkan, teman kerja yang mangasyikkan, dapat mencapai segala sesuatu yang menjadi keyakinan, bisa melakukan sesuatu sesuai dengan yang diimani hati nurani. Itulah hidupku sekarang. Seandainya 16 tahun yang lalu aku tahu kalau hidupku sekarang demikian, tentu dulu aku tidak perlu galau ketika pulang menyaksikan gitar kesayanganku hancur berantakan oleh sang Ayah; tentu dulu aku tidak harus menangis ketika terlambat pulang sekolah lalu dimarahi sang Ayah karena dia beranggapan bahwa waktuku habis untuk pacaran, tentu dulu aku usah bersusah dan bersedih hati ketika sang Ayah melarang itikad baikku melanjutkan sekolah lebih tinggi dengan ucapan “Bapa yang hanya lulusan SD saja bisa cari uang, kenapa harus sekolah tinggi-tinggi, kenyataannya banyak orang pinter pada nganggur”; tentu dulu aku tidak merasa perih ketika dicuekin sang Ayah dalam perjalanan menggapai impian di Ibukota.

—- Stasiun Lenteng Agung, Stasiun UI, Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Cikini, Stasiun Manggarai, Depok, Salemba, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Kampung Melayu, Terminal Pulogadung —- Terima kasih engkau telah menjadi kota yang menyaksikan peluh keringat dan lara hatiku.

—- Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta —- Terima kasih engkau telah menjadi saksi betapa semangatnya diriku ketika itu walau tak satupun dapat kucium harum bangkumu.

—- Ayah …., Ibu …., —- terima kasihku yang amat dalam kucurahkan untuk kalian, sikap kalian telah membuat aku jadi orang yang tegar dengan segala keadaan. —- Tuhanku …, —- Terima kasih  Engkau telah membuat keindahan dalam hidupku.

Abd Rozak

2013

Komentar

Komentar