Reinkarnasi Matamu

: Hayati

Di lautan ini, matamu jumpalitan di antara deru gelombang yang menghantam karang-karang. Sesekali disaksikan ikan-ikan yang berkeliaran di antara lokan-lokan. Lalu, desir angin dari selatan menghambur ke binar matamu, menjelma debit-debit rindu pada nanar mataku. Kemudian, meluaplah airmataku dari muara rasa yang dulu kupelihara dalam do’a-do’a, membentangkan rapal mantra asmara dalam gemuruh dada.

Matamu yang teduh menaungi diriku dari terik matahari di pantai ini. Sepanjang petualanganku menyisir tepi-tepi hatimu dengan asa yang semakin binasa. Berharap, aku bisa melintasi duri-duri yang malang-melintang di jalanmu, tempatmu mengalirkan darah beku ke jantungku, setelah bercak-bercak luka meleleh tanpa kendali. Dari derai-derai airmata yang membanjir ke teluk pelupuk, aku dan engkau bagai sepasang angsa yang menelan nelangsa ketika musim pancaroba.

Di lautan ini, harus kukubur debur waktu bersama ambigu yang masih candu. Biar perahu-perahu bermuatan kenangan berlayar membawa siluet matamu, lindap di sanubari paling berseri-seri.

Annuqayah, 2015  

Komentar

Komentar